Monday, 26 August 2013

Portfolio Guidance (Overweighting Commodities Stock): It's time for "Fuels" to Skyrocketed


            Pelemahan rupiah terhadap dollar baru-baru ini hingga sempat mencapai level diatas Rp 11.000/ 1 US$ telah membuat perekonomian Indonesia terguncang. Inflasi yang tidak terkendali diatas 8% YoY July, neraca perdagangan Indonesia yang defisit, demand produk Indonesia menurun membuat asing mulai keluar dari Indonesia. Mulai dari IHSG yang melemah 8% selama sepekan yang lalu hingga ke pasar bonds yang hengkang karena menuntut yield yang lebih tinggi. Penanam modal asing yang baru hendak masuk ke Indonesia pun menunda proses investasi mereka menunggu hingga pasar kembali normal sehingga banyak proyek bisnis yang tertunda. Akibat dari kondisi tersebut, sektor-sektor penopang ekonomi Indonesia mulai dari property, perbankan & keuangan, perdagangan, dan masih banyak yang lainnya juga mulai menurun performanya. Tercermin dari pergerakan harga sahamnya yang mayoritas terkoreksi cukup tajam dalam perdagangan minggu lalu. 


            Namun ditengah kondisi yang sulit ini bukan berarti investasi menjadi tidak menarik, justru disaat krisis inilah peluang besar untuk mendapatkan “Extraordinary” gain. Seperti pepatah kuno bilang. “Satu pintu tertutp, pintu yang lainnya akan terbuka”. Saat kondisi ekonomi yang lemah dan rupiah terus melemah, peluang mendapatkan gain besar ada pada emiten komoditas seperti CPO, Coal, Oil & Gas yang diuntungkan dengan pelemahan rupiah. Seperti kita ketahui tahun lalu tepatnya bulan may 2012, indeks kita pernah terkoreksi dalam akibat turunnya saham-saham komoditas yang pendapatannya menurun karena penguatan rupiah hingga level Rp 8.800/1 US$. Sekarang Dollar kembali menguat ke level Rp11.000/1 US$ dan nampaknya akan terus bertahan pada level tersebut bahkan akan terus menguat. Intervensi pemerintah nampaknya juga tidak akan terlalu significant mengingat cadangan devisa kita yang semakin menipis dilevel 90 milyar US$ serta defisit neraca perdagangan yang terus melebar, Rupiah sedang memasuki area equilibrium yang baru. Pelemahan rupiah ini akan membuat pendapatan emiten yang berbasis ekspor akan meningkat tajam contohnya seperti komoditas (CPO, Coal, Oil & Gas). Ditambah lagi koreksi yang terus melanda sektor ini selama 1 tahun belakangan ini menambah peluang capital gain yang besar pada saham-saham sektor ini.


Oleh karena itu, saya melakukan riset terhadap saham-saham dengan sektor komoditas yang memiliki peluang paling besar bagi Investor untuk memperoleh “Ultimate Capital Gain” berikut list sahamnya



Saham yang dipilih adalah saham yang di beri Bold dan Italic pada tulisannya. Yang menjadi kriteria pemilihan sahamnya adalah
1.      P/E dibawah rata-rata industri
2.      Potensial % yang tinggi
3.      DER yang tidak lebih dari 2 dan Market Cap yang tinggi
4.      Kesetaraan EPS pada perusahaan sejenis yang pricenya pada range yang sama
Demikian riset yang saya lakukan, semoga memberi inspirasi dalam trading.
Always Smart Investing not Emotion Trading. Happy Investing & God Bless.

No comments:

Post a Comment